BINTANG

9 Desember 2011




            Entah kenapa akhir- akhir ini perasaan, ingatan, dan perkataanku selalu teringat akan “bintang”. Hmmm . . . Apa mungkin ini pelampiasan atas kegalauanku? Entahlah.  Aku juga tidak tahu akan hal itu.
            Bintang . . .
            Bertahtakan dilangit yang luas, dilangit yang luasnya tiada kiranya. Dengan melihat bintang- bintang itu, aku jadi teringat akan seseorang. Seseorang yang “dulu” pernah hadir dihidupku. Seseorang yang “dulu” pernah memasuki kehidupanku. Yang membuat hari demi hari kulewati seperti dunia tanpa rotasi waktu. Kata “dulu” memang tidak tepat kuucapkan, karena aku masih berharap,  bintang itu akan jatuh lagi. Meskipun itu sulit. Meskipun itu terlihat mustahil.

            Balik lagi ke bintang. . .
            Dilangit, mungkin ada jutaan bintang, yang saling beradu keindahan, yang saling beradu ukuran, yang saling beradu sinar, demi untuk dilihat oleh kita. Tapi, aku tidak peduli soal itu. Saat kutatap langit di kegelapan malam, lalu kutorehkan pandanganku keatas, menatapi dan mencari mana bintang yang paling terang, pencarianku pasti berakhir ditempat. Perwujudan bintang yang muncul malah bintang “itu”.
            Bintang itu selalu diatas. Aku tau.
            Bintang itu selalu indah. Menghiasi hari demi hari. Aku tau itu.
            Bintang memang ga pernah salah. Posisinya memang diatas. Sinarnya sungguh terang benderang dan aku berharap sinar itu akan abadi. Biarkan bintang itu sendiri lalu bersama bintang- bintang yang lain, aku rela. Melihat bintang itu seolah olah tersenyum di pancaindera pengelihatanku, aku senang. Walaupun isi hati bintang itu tidak demikian, namun kalau sudah terlihat bahagia, entah kenapa aku juga senang. Egois ya? Mungkin kelihatannya begitu.
            Bintang dengan bintang memang lebih cocok. Sesama bintang memang lebih terlihat selaras. Derajatnya sama-sama diatas.
            Lagipula, bintang itu sudah seharusnya diatas. Cahayanya selalu menerangi kehidupanku meskipun itu hanya “sesaat” tapi, tidak apa- apa. Aku tau, aku hanyalah seperti orang yang menunggu dan mengharapkan bintang itu jatuh. Jatuh kedalam hari- hariku lagi. Tapi, apa boleh buat, kalau ternyata keinginanku memang tidak terwujud. Aku senang kalau bintang itu senang dan terus menebarkan sinarnya. Aku hanya bisa mengagumi bintang itu dari bawah. Itu sudah cukup! Berharap yang lebih itu hanya akan membuatku sakit hati.
            Bicara soal sakit hati, sebenarnya aku siap sakit hati kalau berharap yang lebih. Namun, aku takut resikonya akan lebih buruk daripada itu. Hmm… Cukup mengagumi dan melihat sosok bintang terindah itu dari balik tempat yang menghalangi bintang itu tuk menatapku, itu tidak apa apa.
            Jarak antara bintang dan keberadaanku memang tak bisa segampang itu diukur dan dikira kira. Semakin lama, jarak bintang itu semakin jauh dari penglihatanku. Aku takut, bintang itu malah menghilang dan aku takut, sinar bintang itu akan sirna di kehidupanku. Tapi, kalau dipikir pikir, bintang sama aku itu memang ga sebanding. Dari awal memang seharusnya aku NYADAR ! Iya, aku harus SADAR ! Sesama bintang memang lebih cocok.
            Kalau memang keberadaanku menganggu bintang itu melintasi orbitnya, aku siap untuk menjauh dan aku siap untuk tidak hadir kembali di kehidupannya, jika itu memang yang terBAIK ! 



           

8 komentar:

  1. mantab neng..
    kunjung balik ya..
    http://rplsmkn1dpk.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. Cieee masih berharap nih, cieee :D
    Semoga si "Bintang" jatuh lagi ke mbak ya ^^
    good luck

    BalasHapus
  3. Tapi pasti ada alasan kenapa bintang datang setiap hari, setiap malam, di setiap waktu yg tenang :))

    BalasHapus
  4. @k'nike: pujiankah itu? o.O hoho thanks, kak :D
    @k'Ade: hahaha seriuss?
    @rusydina: makasi :)
    @FridyGraph: amien . wkwk :)
    @Aliv: iya. pasti ada alasannya ;)

    BalasHapus

Tinggalkan jejak yuk ^^ Jangan pelit- pelit~ ❤