1001 Mimpi Bersama Mereka

12 Mei 2014


Penulis: Julia Oktaviani
Tempat: Perpustakaan
 

            Hai… perkenalkan… namaku Alaqua Fletta Putri Nusantara. Aku sering dipanggil Fletta oleh teman-temanku. Aku berasal dari Jerman, namun kini aku tinggal di Semarang, dan agamaku agama Islam. Aku duduk di bangku kelas 10 di SMA Nusantara di Semarang. Langsung saja kita menuju ke kisah hidupku yang cukup miris.

            Cita-citaku sejak dulu adalah menjadi seorang penulis. Dan aku berteman dengan beberapa penulis dari luar Jawa, salah satunya adalah Aceline Faustine. Gadis berdarah Perancis yang berhasil membuat novel best seller. Gadis ini tinggal di Mataram, yaitu ibukota dari Provinsi Nusa Tenggara Barat.
            Aceline adalah sahabatku sejak kelas 8. Kami berteman lewat jejaring sosial Facebook. Setiap kali aku mendapat cobaan, aku selalu mencurahkan semuanya kepada Aceline, dan Aceline pasti memberi solusi tentang masalahku. Namun, kami sama sekali belum pernah bertemu, karena jadwalnya yang padat dan sibuk sebagai seorang penulis.
“Aceline… kapan kita akan bertemu? Sudah 3 tahun kita bersahabat, namun kita tak pernah bertemu,” tanyaku melalui pesan singkat.
            1 jam kemudian… Aceline membalasnya “Maaf Fletti… aku baru bisa balas pesanmu. Aku baru saja menjalani redaksi di Jakarta. Sebentar lagi itu liburan semester ya? Mungkin jadwalku tidak terlalu padat saat itu. Mungkin aku akan ke Semarang,”.
            “Kita bertemu dimana Aceline? Sebutkan satu tempat di Semarang yang kamu tau!” seruku melalui pesan singkat.
            “Minggu pertama saat liburan semester kita akan bertemu. Perpustakaan kota Semarang, itu adalah tempat favoritku,” balas Aceline beberapa menit kemudian.
            “Baiklah. Jangan lupa!” balasku dengan singkatnya, lalu mengakhiri pembicaraaanku dengan dia.
            Malam yang indah di kota Semarang, meskipun udaranya cukup panas. Namun, aku tetap bersyukur bisa melihat malam ini.
            Aku memandangi langit malam dari balkon di kamarku, sembari duduk di kursi berwarna coklat tua. Memandangi bulan Purnama yang indah, serta bintang-bintang yang bersinar di atas sana. Kulihat salah satu bintang yang cukup terang, yaitu Sirius. Aku membayangkan diriku menjadi Sirius, menyinari galaksi ini dengan jutaan bintang lainnya, bagaikan sejuta mimpi dan harapan. Membuktikan diriku mampu untuk melakukannya cukup sulit, bahkan perlu pengorbanan.
            Sejenak kulupakan semua itu, kuingat kembali pesan-pesan bijak yang selalu diucapkan oleh Aceline “Kamu pasti bisa mencari cowok yang lebih baik dari sebelumnya. Kalau kamu putus, jangan nangis, seharusnya kamu bahagia, artinya kamu telah melewati satu tangga untuk menemukan pasangan hidupmu. Kita berdua akan mencari cowok buat kamu. Bersama sahabat, pasti bisa mencari pacar. Bersama pacar, belum tentu bisa mencari sahabat sejati,”.
            Aku berpikir, Aceline itu adalah gadis yang paling baik menurutku. Dan dia adalah sahabat sejati bagiku. Aceline layak mendapatkan gelar sebagai ‘Gadis Ter-bijak’. Gadis ini sangat jarang mengeluh, pendiriannya sangat kuat, tidak seperti gadis-gadis muda lainnya.
            Prang! Fotoku bersama keluargaku tiba-tiba pecah, membuatku terkejut. Padahal, situasinya sedang normal-normal saja. Aku segera membersihkannya. Perasaanku menjadi tak enak saat memandangi foto itu, kekhawatiran ini datang tiba-tiba tanpa alas an jelas. “Tuhan… Apa yang terjadi?” tanyaku dalam hati.
            1 menit… 5 menit… 10 menit… Ah! Terlalu lama kupandangi foto itu, namun kegelisahan mulai datang. Kuambil telfon genggam ini, dan menelfon Ayahku. “Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan …,”.
            “Ah! Ada apa sih? Kenapa aku gelisah? Kenapa aku resah?” tanyaku sambil memutuskan panggilanku ke Ayah.
            “Nona Muda… Nona Muda!” teriak pembantuku dari lantai 1. Entah apa yang terjadi, namun dari teriakannya, ini terdengar tak baik.
            “Ada apa Bi?” tanyaku dengan singkatnya.
            “Tuan… Tuan dan Nyonya… kecelakaan…,” ucapnya.
            DEG! Jantungku seolah berhenti berdetak saat mendengarnya. Darahku seolah berhenti mengalir dan membeku seketika. “What? Kok bisa Bi? Bagaimana ceritanya? Sekarang Bunda sama Ayah gimana? Sekarang mereka gimana?” pertanyaan bertubi-tubi terus kuucapkan dan kuberikan kepada pembantuku.
            “Mereka ada di Rumah Sakit Islam Aisyah,” jawab pembantuku.
            “Aku akan ke sana Bi…,” ucapku yang langsung ke bawah dan memerintah supirnya untuk mengantarkannya.
            Sesampainya disana, aku hanya terdiam dan menangis, menunggu mereka selesai menjalankan operasi. Setengah jam kemudian, dokter keluar dari ruangan tersebut.
            “Dokter… Bagaimana keadaan orang tua saya Dokter?” tanyaku sambil menangis-nangis.
            “Untuk Pak Wandoko, kondisinya masih tidak apa-apa, masih bisa diselamatkan. Tapi, untuk Ibu Cantika, sudah tidak bisa diselamatkan,” ucapnya dengan datar tanpa harapan.
            “Enggak! Enggak Dokter! Dokter harus bisa menyelamatkan Bunda saya, berapapun biayanya akan saya bayar! Bunda adalah segalanya bagiku!” seruku membentak-bentak dokter itu, sembari menangis-nangis.
            “Kak Fletta sabar! Kak Fletta sabar! Jangan marah-marah…,” ucap adik sepupuku yang masih berumur 10 tahun ini.
            “Gimana mau sabar Let? Itu orangtuanya Kak Fletta,” ucap Fletta yang setengah membentak adiknya.
            “Maaf… usaha ini sudah kami lakukan semaksimal mungkin,” Dokter itu pergi begitu saja. Aku langsung menangis sekencang-kencangnya.
            3 Hari telah berlalu, kuhadiri pemakaman Bundaku. Tetes demi tetes air mata kukeluarkan, menangisi Ibundaku. Rasa bersalah kucurahkan, belum sempat aku minta maaf kepada Bunda, namun dia sudah pergi meninggalkanku. “Bunda… semoga Bunda bahagia di Surga sana…,” ucapku sambil menangis dan menaburkan bunga.
            Entah apa yang terjadi selanjutnya. Akankah Ayah akan mengawasiku lebih ketat dari sebelumnya? Sepertinya iya.
            Ayah selalu melarangku untuk pergi jauh-jauh kecuali bersama dia. Mungkinkah semua ini akan menjadi hal yang buruk? Semoga saja tidak. Ketika kepergian Bunda menjadi petak bagiku. Ketika aku harus menghadapi semua ini sendirian. Aceline hanya mendukungku dari kejauhan.
            “Kenapa Ayah selalu mengekangku? Aku punya salah Ayah?” tanyaku
            “Tidak. Ayah hanya takut kamu terkena sesuatu yang uruk saja,” jawab Ayah dengan santainya.
            2 bulan sudah semua itu kulalui. Kini Ayah sudah tak terlalu mengekangku. Saatnya aku bertemu dengan Aceline, walaupun Ayah sedikit tidak memperbolehkanku, aku tetap akan pergi ke perpustakaan itu. Dan, Ayahpun mengizinkanku untuk pergi.
            Aku sudah tiba di Perpustakaan Kota Semarang, namun semua ini hanya berjalan seperti biasa. Tak ada yang aneh, kalau Aceline datang, mungkin dia sudah dikerubungi oleh orang-orang seperti berebut makanan.
            Kuinjakkan kakiku di perpustakaan yang besar itu, aku masuk ke dalam. BRUK! Aku menabrak eseorang, entah itu siapa. Aku membantu dia membereskan buku-bukunya yang masih berserakan di lantai.
            “Maaf ya… aku tidak sengaja,” ucapku dan tetap membantunya.
            “Iya gak papa. Aku yang salah, bukan kamu,” balas dia.
            Kulihat dirinya, dengan wajah yang bersinar, dan baru kukenali dia. Sepertinya dia juga murid di SMA Garuda Semarang.
            “Kak Andhi?” sapaku saat kami saling bertatap-tatapan.
            “Hai Fletta… kamu kok disini? Jarang banget kalau kamu ada disini,” tanya Kak Andhi.
            “Lagi mau ketemu sama Aceline Kak… katanya sih disini. Tapi dia belum datang. Sekarang mau pinjam buku aja,” balasku.
            “Aceline? Penulis itu ya? Kak Andhi pingin ketemu dia, Kak Andhi temenin kamu ya..,” balas Kak Andhi.
            “Iya Kak..,” ucapku dengan singkatnya, lalu membaca buku di perpustakaan besar itu.
            Entah mengapa, saat aku membaca buku, Kak Andhi selalu memperhatikanku. Aku merasa aneh, dan tak nyaman. Tiba-tiba dia mengajakku berbicara,
            “Dek… aku boleh ngomong gak?” tanya dia.
            “Ya boleh dong.. hak asasi manusia,” balasku dengan remehnya.
            “Dek… kamu… mau gak… jadi… pacarku??” tanya dia dengan perkataan yang terbata-bata.
            “Biar aku pikirkan dulu Kak…,” jawabku.
            Dia hanya diam. Lalu menanyakan keadaannya Aceline. Aku segera menelfon Aceline, namun yang mengagkat adalah orang tuanya. Dan mengatakan bahwa Aceline tidak di Semarang karena dia masih ada redaksi. Dan aku mengatakannya kepada Kak Andhi, akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.
            Di rumah, tepatnya di kamarku, aku hanya memikirkan satu orang, lebih tepatnya Kak Andhi. Perkataannya membuatku bingung, terima atau tidak. Lalu aku mengirim pesan singkat ke Aceline, dan dibales oleh dia, itu semua terserah aku. Lalu aku berpikir, lebih baik aku terima saja.
            Aku menelfon Kak Andhi, dan mengatakan bahwa aku menerimanya. Kak Andhipun senyum bahagia, dan senang sekali.
            Lalu aku pergi untuk jalan-jalan sendirian, lalu tanpa sengaja aku bertemu dengan Aceline di perpustakaan.
            “Aceline… kenapa kamu sangat jarang membalas pesanku?” tanyaku.
            “Maaf ya Fletta… sebenarnya aku punya penyakit Kanker. Tadi waktu kamu menelfonku, aku masih di rumah sakit,” balas Aceline.
            “Iya? Kok bisa? Padahal aku punya 1001 mimpi bersamamu,” ucapku.
            “Kita bisa melakukannya disini,” balas dia dengan mudahnya.
            “Bagaimana caranya?” tanyaku yang langsung kebingungan.
            “Berjanjilah kepadaku, jika aku sudah tidak ada nanti, kamu bisa melewati semua ini sendiri, jangan banyak ngeluh ya… 1001 mimpi ini kutitipkan kepadamu. Jangan kecewakan aku ya…,” ucap Aceline.
            Tiba-tiba dia pingsan, entah apa yang ia rasakan, langsung saja kubawa dia ke rumah sakit. Dan berita mengejutkan terjadi, Aceline sudah meninggal. Aku hanya menangis, tak kusangka pertemuan pertama ini juga menjadi yang terakhir.
            Di perpustakaan kota Semarang, satu tempat dengan sejuta kenangan bersama Kak Andhi dan Aceline. Mungkin tak hanya 1001 mimpi yang harus diwujudkan, mungkin sejuta, mungkin triliyunan.
            Perpustakaan ini tak akan aku lupakan untuk selamanya, tempat yang bersejarah di hidupku, bersama Kak Andhi dan Aceline. Aku mungkin tak bisa mencari sahabat.

post signature

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan jejak yuk ^^ Jangan pelit- pelit~ ❤