Tersimpan dalam Memori

12 Mei 2014


Penulis: Qamara Putri
Tempat: Rumah Sakit
 
Tak terasa sudah hampir 9 bulan Miya mengandung, dan hari ini Miya akan melakukan USG. Betapa lengkapnya kebahagiannya nanti jika dia memiliki suami yang baik dan seorang buah hati.
            Miya adalah seorang wanita berusia 25 tahun yang sebentar lagi akan menjadi ibu. Saat ini Miya sedang duduk di salah satu kursi ruang tunggu di rumah sakit sambil sesekali membelai perutnya. Dia menunggu suaminya datang, berharap sang suami bisa menemainya di dalam ruang USG.
            Sembari tetap menunggu, pikiran Miya melayang-layang. Begitu cepat waktu berlalu. Tapi kejadian itu seperti baru kemarin, kejadian 18 tahun yang lalu…
            Saat itu Miya kecil masih berusia 7 tahun, dia tengah berlari-lari di taman rumah sakit. Tiba-tiba Miya mendengar suara orang memangis, Miya mencari tahu asal suara dan menemukan seorang laki-laki yang sedang menangis.
            “Kenapa kamu nangis?” tanya Miya polos sambil memberikan saputangan miliknya. Dengan ragu laki-laki itu menerima saputangan dari Miya dan mulai mengusap air matanya.
            “Ibuku sakit,” jawabnya jujur.
            “Kamu kan laki-laki, jangan nangis ya. Namaku Miya, namamu siapa?” Miya mengulurkan tangannya.
            “Aku Sean,” balas Sean sambil menyambut uluran tangan Miya.
            “Kita bisa jadi teman kan?” Miya pun tersenyum lebar saat Sean mengangguk padanya. Hari ini Miya mendapatkan teman baru.
            Sejak saat itu, Miya sering bertemu dengan Sean. Pada dasarnya Miya memang harus ke rumah sakit sepulang sekolah karena ayahnya yang bekerja di rumah sakit tidak mau jika Miya harus di rumah sendirian. Jangan tanyakan tentang ibunya, beliau meninggal saat melahirkan Miya.
            Sedangkan Sean, dia juga harus terus datang ke rumah sakit sepulang sekolah untuk menjaga ibunya yang sakit. Ibunya yang malang itu mengalami peristiwa kecelakaan yang memaksanya untuk tidak sadarkan diri di ICU.

            Hari-hari terus dilewati. Baik Miya maupun Sean sudah tumbuh besar. Miya tumbuh menjadi gadis 12 tahun yang cantik, berambut panjang lurus sebahu dan Sean tumbuh menjadi laki-laki 12 tahun berambut emo yang tampan. Kini mereka berdua sudah menjadi sahabat dekat, kemana-mana selalu bersama. Mereka pun bisa bersekolah di SMP yang sama, ya… itu semua direncanakan. Sifat ceria dan penuh semangat Miya selalu membuat Sean tersenyum. Begitu juga Miya, dia kagum dengan sosok Sean yang cerdas dan perhatian.
            “Sean! Gue nggak bisa yang ini, bantuin dong!” rengek Miya sambil menarik-narik seragam Sean.
            “Itu gampang, tinggal lo tambah semuanya terus dibagi,” balas Sean enteng.
            “Gini, ya?” tanya Miya sambil memperlihatkan pekerjaanya.
            “Nah itu bisa, pinter!” seru Sean sambil mengacak-acak rambut Miya. Miya yang diperlakukan seperti itu langsung manyun.
            Begitu banyak waktu yang mereka lewati bersama. Meskipun sebenarnya sepulang sekolah Miya sudah tak perlu lagi datang ke rumah sakit, Miya tetap datang karena dia ingin menemani Sean yang menunggui ibunya. Karena di sekolah mereka tidak sekelas, hanya rumah sakit yang menjadi tempat mereka bercanda bersama. Semakin lama Miya semakin hanyut dalam perasaannya, dia jatuh cinta pada Sean. Sampai suatu saat, Sean melenyapkan perasaannya.
            To: Sean
            Sean, kenapa lo tadi nggak berangkat sekolah? Lo nggak kenapa-kenapa kan? Ajarin gue PR Biologi dong, ke taman rumah sakit sekarang, ya.
            Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi…
Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi…
“Sialan! Sean kemana, sih?” tanyanya pada dirinya sendiri. Miya lalu berjalan menuju ruang tempat dimana ibu Sean dirawat. Mungkin saja Sean sedang menunggu ibunya. Namun ketika dia mengintip, kamar rawat itu… kosong.
Melihat suster yang kebetulan lewat, Miya bertanya, “Sus, ibu yang dirawat di sini dimana, ya?”
Suster itu memasang wajah berpikir dan kemudian menjawab, “Oh, ibu itu sudah dipindahkan ke rumah sakit di luar negeri. Rumah sakit ini tidak punya fasilitas yang cukup memadai untuk menyembuhkannya. Kalau begitu, saya pamit dulu, ya. Masih banyak pekerjaan.”
BRUK
Tubuh Miya melemas seketika, dia tak mampu menopang berat tubuhnya. Bulir-bulir air jelas meluncur dari sudut matanya. Jika hati Miya diibaratkan pada sebuah gelas kaca, mungkin gelas itu sudah tak berbentuk lagi, pecah berkeping-keping dan tak mungkin kembali.
“Sean jahat! Sean jahat! Sean…” Umpatan demi umpatan keluar dari mulut Miya tatkala dirinya tetap tidak bisa menghubungi Sean.
Setelah kepergian Sean yang tanpa kabar, Miya menjadi gadis yang pendiam dan pemurung, bahkan anti-sosial. Dia jarang bertegur sapa dengan orang lain, pada jam istirahat dia tak pernah keluar kelas, dia lebih memilih berdiam diri di kelas. Ayahnya pun hanya bisa prihatin melihat perubahan sikap putri tunggalnya.
Selama bertahun-tahun Miya mencoba untuk tidak percaya lagi pada orang lain, ia tak mau berakhir seperti hubungannya dengan Sean. Sampai suatu saat, Miya dihukum oleh Ketua Osis karena salah membawa bahan MOS. Miya pun dihukum, dia harus berdiri di tengah lapangan sampai siang. Di saat haus-hausnya, seorang laki-laki datang padanya.
Mulai saat itu, Miya tak terlalu menutup dirinya. Meskipun hanya berteman dengan satu orang saja, itu lebih baik daripada dia tidak mempunyai teman sama sekali. Laki-laki itu bernama Fian, dia adalah laki-laki yang cukup menyebalkan. Fian juga sering bercerita tentang gadis yang dia taksir, dia terlihat terbuka pada Miya. Namun Miya tidak, dia tak cukup berani untuk menceritakan masa lalunya dengan Sean.
“Wah, lama nih kita nggak makan bareng di kantin,” ucap Fian sambil menyedot jus mangganya.
“Iya, lama banget. Nggak kerasa kita udah jadi murid kelas XI, padahal kayaknya baru kemarin kita MOS.” Miya menerawang.
“Ciee, kenangan buruk masa MOS,” ejek Fian.
“Ah, rese lo!”
Ketika Miya dan Fian sedang memakan nasi goreng pesanan mereka, samar-samar mereka mendengar obrolan tiga siswi yang berada tak jauh dari mereka.
“Gilaaa! Murid baru tadi ganteng banget, ya.”
“Bener banget, katanya dia pindahan dari luar negeri.”
“Mau dong jadi pacarnyaa!”
Miya hanya geleng-geleng mendegarkan penuturan siswi-siswi yang menurutnya berlebihan itu.
“Siapa sih yang mereka maksud?” tanya Fian penasaran.
Miya mengendikkan bahu. “Mana gue tau!”
“Emang cewek aneh lo, biasanya cewek-cewek pada ribut kan kalau ada cowok ganteng. Nah elo, parah banget.”
.
            “Kenapa ini harus terjadi sama gue??” teriak Miya dengan keras. Suasana sore di taman rumah sakit yang sepi membuatnya berani berteriak. Bukan apa-apa, dia hanya kesal dengan kepenatan dunianya. Terdengar berlebihan memang, tapi Miya akan lebih lega setelah berteriak. Dan tanpa sadar, air matanya mulai menetes. Sekuat apapun seorang perempuan, akhirnya akan menangis juga.
            “Kenapa nangis?” tanya seorang laki-laki. Dia duduk di samping Miya. Miya melirik ke arah samping dan mendapati seorang laki-laki berambut emo.
            Mirip seperti Sean, tapi bukan… dia kan murid baru itu. Lagipula laki-laki ini kan kakak kelasku, sementara Sean sederajat dengaku, batin Miya.
            “Kok diem? Nih, pakai saputangan ini.” Laki-laki itu memberikan saputangan biru bergambar beruang pada Miya.
            Awalnya Miya terdiam, tapi kemudian dia langsung menatap laki-laki di depannya dengan tatapan tak percaya. Ia yakin, saputangan itu miliknya. Saputangan yang pernah ia berikan pada Sean.
            “Kau bukan Sean!” ucap Miya tak percaya.
            “Namaku Sean. Kau mengenalku?”
            “Tidak! Sean seharusnya kelas XI, bukan kelas XII!”
            “Itu mudah. Di Australia aku ikut program akselerasi.”
            Tanpa banyak berpikir lagi, Miya langsung menghambur ke pelukan Sean. Dia tidak pedul lagi, dia sangat merindukan Sean.
            “Sudah kuduga. Awalnya gue ragu karena liat sikap lo yang berbanding terbalik sama sikap Miya yang dulu gue kenal. Tapi sekarang gue ngerti, lo Miya.”
            “Gue berubah karna lo, Sean. Gue nggak ngerti apa alasan lo ninggalin gue tanpa kabar, tapi gue pengen lo ngerti. Gue sayang sama lo!”
            “Gue juga sayang sama lo. Kita jalanin dulu ya hubungan ini.” Miya pun mengangguk di pelukan Sean.
.
            “Sayang, lama banget ya nunggunya? Maaf tadi ada meeting dadakan,” ucap seorang laki-laki muda yang gagah dengan mengenakan setelan jasnya.
            Miya tersadar dari lamunannya. Entah sudah berapa lama dia melamun, melamunkan masa lalunya. Sungguh indah, semua kenangannya ada di rumah sakit ini.

post signature

2 komentar:

Tinggalkan jejak yuk ^^ Jangan pelit- pelit~ ❤