180 Derajat

8 Juni 2014


Karya Pasangan Nomor 1 (@adlin_apriliani & @Vero_yola)
 
 

            Aku berjalan melewati setiap anak tangga untuk menuju ruang perpustakaan sambil membawa banyak lembaran kertas yang berisi cerita fiksiku, termasuk naskah novel buatanku. Kemarin, Vero—teman sebangkuku—memberitahuku tentang lomba menulis dengan berbagai macam tema yang diadakan oleh beberapa penerbit.
            BRUKK
            Aku menjatuhkan lembaran-lembaran kertas dan tasku ke meja yang berada di depanku. Selanjutnya, aku berjalan mengelilingi perpustakaan untuk mencari buku yang kuperlukan untuk kebutuhan cerita-cerita buatanku.
            “Sastra Indonesia, Kumpulan Cerita Pendek, Tips Membuat Cerita Menjadi Menarik, Cara Membuat Cerita Horror Menjadi Lebih Menakutkan... hmm... ada yang kurang nggak ya? Kayaknya nggak deh.” Aku mengabsen setiap buku yang kuperlukan dan aku rasa ini sudah cukup. Aku kembali menuju meja dimana aku meletakkan lembaran-lembaran cerpenku dan tasku. Tapi tunggu…
            “Cerita lo bagus juga, feel nya dapet banget…  ini semua lo sendiri yang buat?” tanya seorang cowok yang tidak aku kenal, karena wajahnya tertutup kertas HVS.
            “Lo…? Siapa?” tanyaku balik kepadanya.  Cowok itu menghentikan kegiatan membaca cerita pendekku dan sekarang wajahnya sudah terlihat karena kertas HVS yang sedari tadi menutupi wajahnya sudah ia letakkan di meja.
            “Lo anak IPS-3 ya?” tanya nya.
            “Gue nanya sama lo, lo siapa? Seenaknya baca cerita gue tanpa bilang sama gue.” Aku duduk di samping cowok yang tak ku kenal ini, lalu meletakkan buku-buku yang sudah kuambil tadi di atas meja kayu di hadapanku.
            “Gue Ciko, anak IPS-1. Lo suka nulis ya? Cerita lo bagus dan feel cerita lo bagus banget di-genre horor, komedi, sama friendship. Tapi, ada satu genre yang nggak gue temuin dari semua cerita lo. Romance.Cowok ini menoleh ke arah ku yang sedang sibuk membaca.
            “Gue gak bisa. Gue gak pernah tahu apa itu CINTA. Dan sayangnya, gue GAK AKAN mau tahu tentang CINTA,” jawabku dengan penuh penekanan pada beberapa kata yang aku ucapkan.
            “Nggak bisa? Kenapa? Bahkan romance hal yang paling mudah buat di ceritain.” Kini alis sebelah kirinya terangkat beberapa senti. “Bahkan di semua cerita lo yang berbau horor, komedi, dan persahabatan itu, sama sekali gak ada sedikit pun unsur romance,” sambungnya. Matanya menatap wajahku yang masih asik membaca.
            “Kenapa? Lagi pula, cinta itu cuma omong kosong. Jadi…” kataku menggantungkan kalimatku. Mataku masih setia membaca tulisan yang ada di buku, walaupun konsentrasiku buyar karena laki-laki ini. “Gue gak tertarik buat jadiin tema romance di karya tulis gue,” jawabku.
             “Omong kosong? Lo... aneh.” Cowok yang baru kukenal namanya ini berdiri dan meninggalkan perpustakaan.
***
            Nasi goreng di depan mataku sudah mendingin, kebulan asapnya tak lagi terlihat. Sudah lama aku duduk di kursi kayu ini, mencoba untuk mengerti apa yang terakhir kali Ciko katakan padaku.
            “Omong kosong? Lo aneh. Gue? Aneh? Maksudnya apasih tuh orang!” gumamku sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang sedari tadi belum ku jejalkan ke dalam mulutku.
            “Siapa yang aneh?” ucap Vero yang tiba-tiba menyerobot nasi gorengku dan memakannya dengan lahap.
            “Lo yang aneh! Nasi gorengnya belum gue bayar, ‘kan lo yang makan jadi lo yang bayar!” Aku segera pergi meninggalkan Vero. Mata coklatnya menatap kepergianku dan kini berganti menatap nasi goreng yang baru dimakannya.
             “TIARRRR! Kenapa lo gak bilang kalo nasi gorengnya belom dibayar?” Vero berteriak dengan nasi yang masih ada dimulutnya dan menyebabkan nasinya menyembur kemana-mana.
            “Haha... sukurin! Lagian main rebut aja. Dasar cowok stress!” Aku tertawa kecil sambil mengayunkan langkahku. “Gue mau ke mana ya? Kelas? Ah... perpustakaan aja deh.” Lagi-lagi aku harus melewati anak tangga. Mengapa sekolah harus menempatkan perpustakaan di lantai atas, yang harus melewati berpuluh-puluh anak tangga untuk mencapai lokasi. Hal ini yang menjadi alasan siswa-siswi malas ke perpustakaan. Tapi, apa boleh buat, ini keputusan sekolah.
            Kini aku sudah berada di ambang pintu perpustakaan. Aku melihat ke kanan-kiri seperti ingin menyebrang, dan ternyata sepi.  Apakah hanya ada aku seorang di perpustakaan? Entahlah. Aku berjalan diantara rak-rak buku yang sudah berjejer, tangan dan mataku sibuk mencari buku yang ingin ku baca.
            “Nah ini dia!” seruku. Aku pun mencari tempat duduk.
             “Nih lo baca!” ucap seseorang yang baru saja duduk disampingku. Ia melempar satu buah novel ke arahku. Sejenak aku melirik novel yang dilemparnya dengan alis yang terangkat kebingungan, lalu aku menoleh ke arah kiri memastikan siapa yang melempar novel itu.
             “Lo lagi? Hefft...” kataku dengan desahan di akhir.
            “Gue mau lo baca novel itu,” jawab Ciko—Si Cowok Menyebalkan dan sok akrab tentunya.
             “Lo nyuruh gue baca novel kayak gini? Gue gamau! Nih!” tukasku, lalu mengembalikan novelnya pada Ciko dan kembali membaca novel ‘Lewat Tengah Malam’ yang kuambil tadi—novel kesukaanku.
            “Iya. Lo harus baca ini! Gue baru tau kalo di sekolah ini ada seorang penulis cewek yang bernama Tiar Pratama yang cuek, jutek, judes, galak, dan nganggep CINTA itu cuma omong kosong,katanya dengan seringai tipis. Uraiannya tentang diriku cukup membuat mataku membulat sempurna.
            “Maka dari itu, Ciko Bramantyo mau membantu Tiar Pratama untuk mengenal cinta dengan cara baca novel romatis itu,” kata Ciko sambil mengambil novel ‘Lewat Tengah Malam’ yang baruku pegang dan menggantikan novel itu dengan novel rekomendasinya.
            “Lo apa-apaan sih? Lo baru kenal gue dan seenaknya ikut campur masalah kehidupan gue. Dan tadi lo bilang lo mau gue mengenal cinta lebih dalam? Apa perlu? Apa cinta sebuah pelajaran yang harus gue pelajarin? Enggak ‘kan? Dan mulai sekarang, lo pergi dari hidup gue dan jangan ikut campur lagi! Dan jangan pernah paksa gue buat masuk ke dalam dunia CINTA! Ngerti lo?” Emosiku memuncak kepada Ciko. Entah mengapa, aku aku sangat membenci orang yang selalu membicarakan cinta di hadapanku.
            Aku bangkit berdiri dan berniat meninggalkan laki-laki menyebalkan ini. “Tunggu!” Ciko memegang pergelangan tanganku, lalu menarikku sehingga aku kembali duduk di tempat semula.
            “Ck! Kenapa lagi sih?” Aku menatap Ciko yang sedang memperhatikan wajahku dengan senyum miring yang seolah-olah meledekku.
            “Gue tetep akan bawa lo ke dunia cinta, dengan cara halus dan tanpa paksaan dari gue, tapi paksaan dari hati lo sendiri. Tunggu aja kapan waktunya dateng. Dan sekarang lo baca novel ini…” ucap Ciko, dan lagi-lagi dia meninggalkanku di ruang perpustakaan sendirian.
***

            Entah yang ke berapa kali aku membaca novel romantis rekomendasi Ciko. Tidak ada yang salah dari novel rekomendasinya, tapi ini semakin membuatku terperangkap dalam kisah cinta yang tertulis di novel tersebut. Kisah romantis sepasang kekasih memang indah bila diceritakan, tapi, kisah romantis juga yang mengingatkanku tentang betapa ‘omong kosongnya cinta’.
            Aku menghembuskan nafas panjang saat novel rekomendasi Ciko tersisa dua lembar lagi dan sebentar lagi novel-novel ini akan kembali ke rak-rak buku perpustakaan bersama teman-temannya, dan selanjutnya aku benar-benar akan terbebas dari novel-novel rekomendasinya, novel-novel yang memaksaku untuk bernostalgia. Satu hal yang janggal dalam benakku dan menimbulkan pertanyaan ‘kenapa bisa aku menyanggupi perintahnya untuk membaca novel-novel romantis seperti ini?’ dan kini pertanyaan itu masih memenuhi otakku karena aku belum bisa menemukan jawabannya. Rasanya otakku harus segera di servis sebelum rusak total karenanya.
            Pandanganku tiba-tiba gelap, seseorang telah mengagetkanku saat aku membaca dengan menutup mataku dari belakang. Kedua telapak tangannya memberikan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhku. “Gue gak suka di  ajak main-main gak jelas,” kataku mulai kesal dibuatnya.
            Tak perlu menunggu lama, telapak tangan orang usil itu perlahan-lahan merenggangkan jemarinya sehingga sedikit demi sedikit cahaya kembali terlihat oleh mataku. “Lo judes amat sih!” ledek Ciko—pelaku keusilan—sambil memposisikan dirinya untuk duduk di sampingku. “Wah... novel-novel rekomendasi gue lo baca juga!” katanya takjub.
            “Gue udah baca semua novel rekomendasi lo, jadi...” Aku menggantungkan kalimatku sebentar. Novel yang aku baca langsung aku letakan di atas meja dalam posisi terbalik. “JANGAN GANGGU GUE!”
            “Sayang sekali, gue udah terlanjur seneng gangguin hidup lo. Masa iya gue harus pergi ninggalin kesenangan gue?”
            “IYA. LO WAJIB TINGGALIN GUE. JANGAN GANGGU GUE LAGI!” kataku sedikit berteriak. Aura mematikan sudah keluar dari dalam tubuhku, namun, laki-laki menyebalkan ini tidak bisa menyadari aura mematikan dariku.
            “Lo pengen gue tinggalin?” tanya Ciko dengan nada santai.
            “IYAAAAA!!!” kataku benar-benar emosi sekarang. “IYA! IYA! IYA! GUE PENGEN LO JANGAN GANGGU GUE LAGI!”
            “Jadi, lo pengen jadi pacar gue?”
            “IYA—EH!” kataku menyadari kejanggalan dari kalimat tanyanya. Mataku tak berhenti memandang wajah sok polos yang bagiku sangat menyebalkan itu. Kedua tanganku sudah terlipat manis di depan dada. “Pertanyaan lo aneh,” kataku menurunkan satu oktaf nada bicaraku.
            “Sayangnya, lo udah nerima gue jadi pacar lo” kata Ciko masih memasang wajah menyebalkannya. Dia bangkit dari duduknya, tangan kanannya mengacak-acak rambutku yang saat ini dikuncir ponytail. “Selamat membaca lagi, pacar baru!” sambung Ciko langsung meninggalkanku pergi begitu saja.
            Meskipun aku sudah ditinggal dengan laki-laki yang tidak tahu diri itu, aura membunuhku masih mengepul di permukaan. Aura membunuh yang transparan dan bertambah banyak karena ucapan Ciko yang di luar dugaanku. Ini tidak mungkin terjadi! Aku berpacaran... lagi? Ciko menarikku ke dunia cinta yang sejak lama sengaja aku pisahkan dari duniaku. Ini bukan dunia cinta! Ya... ini bukan cinta! Cinta hanya omong kosong dan kasusku dengan Ciko hanyalah kejadian yang disebabkan kata-kataku yang terburu-buru. Ini... KECELAKAAN!
***
            Pukul satu siang di hari Minggu. Suasana food court di salah satu mall di Jakarta masih ramai dari pengunjung. Bahkan, eskalator yang aku naiki pun rasanya sudah dipenuhi banyak orang untuk sekedar makan siang di food court yang terkenal di ibu kota ini.
            Aku tidak suka tempat yang ramai dan bising seperti ini, kalau bukan karena Ciko yang memaksaku ke sini, aku tidak akan datang. Bukan hanya paksaan yang dilayangkan Ciko lewat SMS-nya, tapi juga kalimat ancaman. Ancaman yang membuatku ‘terpaksa’ untuk memenuhi keinginannya, ancaman bahwa dia akan membakar novel terjemahan jaman dulu yang sudah lama aku cari. Ini semua demi novel itu! Cuma karena novel.
            Lambaian tangan Ciko yang langsung ditangkap oleh kedua mataku. Senyumnya merekah dan tidak ada ekspresi bosan atau kesal gara-gara menunggu. Aku sudah telat setengah jam dari jam yang dijanjikan dan itu bukan disengaja. Tahu sendiri ibu kota tidak pernah lepas dari kata macet, dia menyuruhku satu jam yang lalu. Jadi, salahkan dia karena dia telah membuat janji dadakan.
            Aku menghampiri Ciko yang telah berdiri untuk menyambut kedatanganku. Ciko menarik kursi yang disediakannya untukku dengan berkata ‘Silahkan duduk Tuan Putri!’ Hal yang menurutku sangat berlebihan,
            “Mau pesan apa?” tanya Ciko ramah. Semenjak incident dua minggu yang lalu, Ciko berubah 180 derajat. Sikapnya tak lagi seperti dulu, tidak ada lagi Ciko yang bawel yang selalu menyuruhku membaca novel-novel romantis, menggangguku di saat membaca, dan mengata-ngataiku dengan ledekan aneh yang dibuatnya. Dan sekarang aku harus mengenal dan harus beradaptasi kembali dengan sosok Ciko yang baru, sosok Ciko yang ramah, perhatian, dan sopan. Tapi tetap saja, Ciko adalah Ciko, sekali aku membencinya maka selamanya aku akan membencinya.
            Mataku menyipit melihat tingkah aneh Ciko “Lo kenapa sih jadi berubah aneh kayak gini? Lo sakit? Kalau lo sakit lebih baik lo ke dokter deh. Lo dari tadi senyum-senyum nggak jelas mulu, gue jadi takut sama lo!” kataku seenaknya.
            “Aku gak sakit kok. Kamu beda ya kalo lagi nggak pake seragam, lebih terlihat cantik. Betewe, kamu mau pesan apa, Tiar?” tanyanya sopan, masih dengan senyum dibibirnya. Nah! Pasti ada sesuatu yang aneh di otaknya dua minggu terakhir semenjak incident waktu itu.
            “Lo gak usah pura-pura baik sama gue. Gue tahu, lo berubah jadi sopan, perhatian, ramah, dan sok perfect cuma gara-gara lo nganggep gue pacar lo‘kan? Denger ya Ciko, gue nggak pernah nganggep lo jadi pacar gue. Dan satu hal yang perlu lo tau dan perlu lo inget, insiden waktu itu yang buat status gue jadi pacar lo. Hm... lebih tepatnya jadi pacar kecelakaan lo.” kataku mengeluarkan uneg-uneg dalam hati. Siapa yang mau dibohongi? Jelas tidak ada. Aku juga tidak mau dibohongi dengan topeng kepribadian Ciko yang sok jadi pahlawan kesiangan “Dari dulu pandangan gue tetep sama, cinta itu omong kosong. Cinta gak pernah berakhir manis, semuanya pahit. Cinta itu berasa kaya lagi makan permen karet, manisnya di awal dan makin ke sini rasanya jadi hambar,” sambungku.
            Ciko terdiam menyimak semua kata-kata yang keluar dari mulutku. Wajahnya berubah jadi datar, matanya benar-benar menatapku tajam membuatku menjadi salah tingkah. “Terus, selama dua minggu ini lo anggep gue apa? Gue berusaha buat jadi cowok yang sempurna di hadapan lo, lo tahu alasannya?” tanyanya. Aku menggeleng dengan wajah tidak peduli, walaupun sebenarnya aku tidak suka ditatap seperti itu. “Gue pengen ngasih tahu ke lo, kalau cinta itu bukan OMONG KOSONG!” kata Ciko menekan dua kata di kalimat terakhirnya. Kalimat Ciko berhasil memancing keingintahuan pengunjung di dekat kami. Mereka melihat kami seolah-olah bertanya ‘apa yang sedang terjadi?’ dengan wajah polos mereka. Namun aku memilih untuk tidak peduli pada pengunjung yang sedang memerhatikan kami—Aku dan Ciko—dengan tatapan kebingungan.
            “Gue gak pernah minta lo buat jadi pacar gue ‘kan? Gue juga gak pernah minta lo buat berubah jadi lebih sempurna di mata gue ‘kan? Itu semua kemauan dari diri lo sendiri. Kenapa lo malah sewot sama gue?” Aku benar-benar kesal karena Ciko. Bagaimana bisa dia menyalahkan aku, padahal itu semua adalah kemauan dirinya.
            Ciko terdiam karena telah mendengar omonganku. Ia melipat kedua tangannya diatas meja lalu memandang wajahku lekat-lekat dengan mata hitamnya. Namun, tiba-tiba Ia menunduk dan mendesah “Hefft... iya ini emang salah gue. Gue udah nyerah buat menghilangkan prinsip dan pendapat lo kalau cinta itu omong kosong. Dan sekarang, gue mau kita putus. Makasih udah mau jadi pacar kecelakaan gue.” Ciko pergi begitu saja meninggalkanku dengan orang-orang yang haus akan jawaban pertanyaan mereka. Rasanya seperti berada di kandang buaya.
            Saat Ciko pergi meninggalkanku, tiba-tiba saja ada rasa menyesal dalam diriku. Tapi, dengan perginya Ciko, aku tahu satu hal yang pasti, dia tidak benar-benar mencintaiku. Terbukti bukan, cinta itu omong kosong? Hanya menebar janji dan kepalsuan. Cinta juga yang merubah sifat manusia 180 derajat dalam waktu singkat. Sayangnya, sifat manusia karena cinta berubah dengan cepat dan berakhir dengan cepat pula.
            Aku membiarkan Ciko pergi meninggalkanku untuk yang  kesekian kalinya. Aku memesan banyak makanan untuk merayakan terbebasnya hari-hariku dari pacar kecelakaanku juga merayakan bahwa prinsipku selama ini benar adanya, bahwa cinta hanya omong kosong.
***
            Tepat lima bulan semenjak kejadian di  food court antara Aku dan Ciko. Ciko benar-benar menjauhiku. Ia benar-benar menghilang dari kehidupanku dan kini aku merasa kesepian. Padahal setelah kejadian lima bulan yang lalu hubunganku dengan Vero semakin dekat, Vero selalu mengajakku ke kantin bersama dan mentraktirku, Vero juga semakin sering mengajakku untuk jalan-jalan. Tapi, entah kenapa perasaan di dalam hatiku masih merasakan kesunyian yang mendalam. Aku kesepian. Bukan aku, tapi, hatiku.
            “Kak Tiar!” sapa seseorang mengagetkanku, alhasil kantung plastik yang sedaritadi ku genggam terjatuh dan membuat novel yang ada didalamnya berserakan. Gadis yang usianya lebih muda satu tahun dariku ini langsung mengambil novel yang tak sengaja terjatuh karenanya. “Maaf kak, Fera gak bermaksud buat ngagetin kakak. Kakak sendirian di toko buku? Kok tumben nggak sama Kak Vero?” tanya gadis cantik yang bernama lengkap Ferasya Putri.
            Aku tersenyum “Iya gapapa. Lagian salah Kak Tiar juga sempet melamun di tempat umum kayak gini. Vero lagi latihan basket, masa kamu lupa jadwal eskul kakak kandungmu sendiri sih?” godaku. Fera tersenyum hambar. “Kamu juga, sendiri aja?”
            Fera menggeleng cepat. “Sama pacar baru dong, dia seangkatan sama Kak Tiar. Mau tahu siapa?” tanya Fera. Aku mengangkat daguku, memaksa Fera segera memberitahuku. “Kak Ciko,” jawab Fera antusias.
            Aku mengingat siapa saja teman seangkatan ku yang bernama Ciko. DEG. Tubuhku melemas saat aku tahu bahwa satu-satunya teman seangkatanku yang bernama Ciko hanya satu orang, yaitu Ciko Bramantyo anak kelas IPS-1 dan dia adalah mantan pacar kecelakaanku. Rasanya ada rasa tidak terima saat Fera mengatakan bahwa Ciko sekarang menjadi pacar baru Fera. Rasa sesak ini sama seperti yang dulu pernah aku rasakan. Rasa sakit akibat dikhianati oleh orang yang aku sayang. Tunggu! Sayang? Apa iya aku menyayangi Ciko? Dikhianati? Tidak juga, karena statusnya adalah mantan, bukan lagi kekasihku. Jadi, aku tidak pantas merasa dikhianati.
            “Hai Kak Ciko! Sebentar aku bayar buku dulu ya? Kak Ciko ngobrol sama Kak Tiar dulu aja. Dia temennya Kak Vero yang sering aku ceritakan,” kata Fera ketika sosok masa laluku itu datang menghampiri kami berdua. “Kak Tiar, ngobrol-ngobrol aja dulu!” kata Fera kepadaku. Aku tersenyum manis atau lebih tepatnya, senyum yang sengaja dibuat manis.
            Fera meninggalkan kami berdua. Ciko berdiri di sebelah kiriku membaca novel yang tertata rapi. Sementara aku mencoba tidak terus-terusan memperhatikan wajahnya yang tampan. Dia terlihat lebih dingin dan cuek, sejak tadi matanya sibuk membaca buku dan tak menyapaku sama sekali, untuk melirik atau tersenyum tipis pun tidak. Ciko layaknya es batu yang hidup. Dia berubah menjadi garis lurus, garis lurus dengan sudut 180 derajat.
            “Lo berubah,” kataku memberanikan diri memecahkan keheningan. Namun sayang, Ciko tidak meresponku, dia masih asik membaca novel yang digenggamnya “Kenapa lo jadi cuek kaya gini? Kenapa lo berubah? Mana Ciko yang bawel dan nyebelin itu? Mana Ciko yang dulu?” aku menyerangnya dengan banyak pertanyaan. Jujur saja, perubahan Ciko yang berlebihan ini membuatku khawatir.
            “Perubahan gue yang menurut lo 180 derajat ini udah berlangsung sejak lima bulan yang lalu. Sikap gue bukan topeng ‘lagi’ ini bener-bener real seorang Ciko,” jawabnya tanpa memandangku. Bahkan melirikku pun tidak.
            Hatiku menolak penjelasan Ciko. Hatiku menginginkan Ciko yang menyebalkan, Ciko yang bawel dan sering membuatku kesal, bukan Ciko yang sedingin es batu. Tiba-tiba saja aku menginginkan Ciko kembali padaku, bukan sebagai pacar kecelakaan tapi benar-benar pacarku. Keterlaluan memang, menginginkan seseorang yang dulu pernah di sia-sia kan untuk menjadi kekasihnya lagi  dan kini seseorang itu telah menjadi milik orang lain. Hanya orang yang tidak berperasaan yang melakukan itu. Dan… orang itu adalah aku. Tiar Pratama. Mantan pacar kecelakaan Ciko.
            “Aku udah selesai nih! Kami duluan ya, Kak Tiar!” kata Fera sambil merangkul lengan Ciko dan meninggalkanku sendirian. Ciko sering pergi meninggalkanku dan menyisakan kebingungan untukku. Dan kali ini, Ciko pergi meninggalkanku, menyisakan setitik luka yang amat dalam dan menyakitkan. Kepergiannya berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kepergiannya membuat air mataku membasahi kedua pipiku.
THE END
post signature

1 komentar:

  1. Cara penulisannya keren, ceritanya bagus sih.. cuma ya konfliknya udh bagus tapi endingnya itu loh ngegantung:3 hehe
    @Bestherina_Best

    BalasHapus

Tinggalkan jejak yuk ^^ Jangan pelit- pelit~ ❤