Si Pemalas

8 Juni 2014


Karya Pasangan Nomor 5 (@ariizaa_ & @Mufidah99)
 
 

Tersenyum. Sebuah aktivitas yang pasti mudah dilakukan oleh semua orang. Namun berbeda dengan gadis yang satu ini. Sejak di tinggal kakaknya 3 tahun lalu, yang entah pergi kemana, gadis ini menjadi murung. Kabar pun tak ia dapatkan. Bagaimana kakaknya sekarang? Dengan siapa kakaknya sekarang? Gadis itu tak tahu. Dan karena itulah gadis ini susah untuk tersenyum.

            “ Dah Rein, kakak pergi dulu ya. Awas jangan kangen ya bye..”

            “ Huuu.. siapa juga yang bakalan kangen. Jangan kepedean deh. Oke hati hati di jalan kak” seutas senyuman pun Rein berikan sambil melambaikan tangan. Ia berdoa semoga kakaknya baik baik saja di sana

            “ Huufftt ” hembusan nafas berat mulai terdengar. Kata kata terakhir kakaknya itu terus terngiang – ngiang di kepalanya.

            Langit biru muda kini telah berubah menjadi biru gelap ke oren-orenan. Terlihat seorang gadis yang tak lain adalah Rein sedang duduk termenung di balkon kamarnya. Di tangannya terdapat sebuah bingkai foto. Tanpa Rein sadari perempuan berambut panjang memasuki kamarnya.

            “Rein, jangan lupa ya besok loe ada bimbel Bahasa Inggris di sekolah ” Rein yang mendengarnya menunjukkan ekspresi malasnya.

            “Yaelah ada bimbel apa lagi sih Sal? Males gue Bahasa Inggris mulu enggak ada yang lain apa ”

            “Yaampun Rein. Ini kan rekomendasi dari Miss Mey, lagian suruh siapa loe dapet nilai jelek pas ulangan kemarin ”

            “Ya ya ya.. gue tau Salsa udah sana balik ke alam loe jangan disini mulu ”

            Karna merasa dirinya –Salsa- diusir tanpa pikir panjang dia langsung pergi sebelum dirinya dipukuli dengan bantal seperti kemarin “ Oke karna gue merasa sudah merasa diusir. Gue pulang dulu bye ”

            Tunggu, kenapa Salsa bisa masuk ke kamar? Tentu saja bisa karna Salsa adalah teman Rein dari kecil. Keluarga Rein pun sudah menganggap Salsa sebagai saudara jadi tak masalah bagi Salsa untuk sesuka hatinya masuk ke kamar Rein. Dan tentang masalah Rein dengan kakaknya pun dia tau. Sudah banyak cara yang Salsa lakukan untuk membuat Rein ceria lagi seperti dulu, tanpa harus melamunkan kakaknya. Tetapi sudah banyak juga cara yang dia gunakan gagal. Tapi kali ini dia punya rencana yang menurutnya kali ini akan berhasil.

***
Keesokan harinya
            Matahari mulai tampak dari ufuk timur. Sedikit demi sedikit cahaya mulai masuk ke dalam kamar dan mengusik tidur gadis ini. Siapa lagi kalau bukan Rein. Sebenarnya ia paling malas jika harus bangun pagi. Tapi ia teringat ada jadwal bimbel hari ini. Dengan berat hati ia segera bangun dari tidurnya.

            Saat Rein sudah siap untuk pergi ke sekolah, ia melihat ada sebuah surat di depan rumahnya. Tanpa pikir panjang ia langsung membuka surat itu tanpa melihat siapa pengirimnya. Dan di dalam surat tersebut banyak kata yang ia tidak mengerti.

Hay Rein adikku sayang,

Sudah lama ya kita tidak bertemu..
Kakak kangen lo sama kamu. Maaf selama ini kakak ga kirim kabar sama kamu. Oh iya, katanya kamu dapet nilai jelek ya. Ayo dong masa kamu mau kalah sih sama kaka. Inget ya!Has worked hard to advance. New having fun then. Good luck my sister.

Salam Manis
Riza Alifiah
            Ha? Surat itu bertuliskan Riza Alifiah. Nama yang selama ini ia rindukan. Mimpikah ia sekarang. Tak sadarkah jika dirinya ini sedang tersenyum. Tapi saat ia mengecek bagian depan amplop kenapa tidak ada keterang surat ini dari mana. Huh, ini nih yang Rein tidak suka dari kelakuan kakaknya. Selalu saja membuat dirinya penasaran. Apakah kakaknya ini lupa kalau adiknya ini tidak bisa bahkan tidak mengerti bahasa inggris. Sudahlah lupakan dulu kejadian ini sejenak. Mungkin guru bimbelnya sudah menunggunya di sekolah.

            Tapi tunggu. Kenapa tidak ada angkutan umum yang lewat. Tak tahukah mereka jika ini sudah siang? Mungkin saat ini Rein merasa baru saja terbang sampai ke langit lalu tiba tiba langsung di hempaskan  jatuh ke tanah tanpa ada bantal satu pun disana. Mungkin ini sebuah pertanda bahwa ia harus jalan sampai ke sekolah. Lalu sampai disana tubuhnya penuh dengan keringat yang mengerikan. Oke mungkin sekarang dirinya mulai di serang penyakit lebay.

            Dari kejauhan terlihat dua orang sedang memperhatikan Rein dengan seksama. Yang satu berambut panjang dan yang satu terlihat lebih tua darinya.

            “Yes.. kak rencana kesatu sukses” ucapnya dengan girang

            “Hahaa.. oke oke Sal, ayo kita mulai rencana yang kedua ” balasnya. Terlihat mereka berdua tertawa dan segera pergi dari tempat itu.

            Sesampainya di sekolah terlihat cukup sepi. Hanya terlihat beberapa murid yang mengikuti ekskul dan beberapa murid yang bernasib sama dengan dirinya.

“Haruskah gue mengikuti bimbel ini? Males banget tahu enggak? Apa gue kabur aja kali ya ” dengan sendirinya ide gila itu muncul dari kepalanya

            Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang wajahnya mulai keriput sedikit demi sedikit. Dan ada sebuah kacamata di wajanya sedang memperhatikan dirinya sedari tadi. Sebelum Rein berhasil kabur wanita ini langsung memanggil murid bandelnya itu “Reiiinn… mau kemana kamu. Masuk keruangan lima. Cepattt! ”

“Eh iya iya bu. Saya keruang lima dulu ya bu, permisi” Sebelum guru itu memberikan hukuman yang lebih kejam lagi. Dengan terpaksa Rein segera pergi menuju ruang lima.

            Tapi kalau mendengar angka lima. Ia jadi teringat kepada kakaknya. Angka lima itukan angka kesukaan kak Riza. Kenapa jadi mikirin kak Riza lagi sih. Mungkin untuk saat ini kakaknya sedang hobi berputar putar di kepalanya.

            Rein segera berlari menuju ruang lima, tempat dimana bimbel itu diadakan. Dengan nafas yang terputus-putus Rein membuka pintu ruang lima. Mungkin Rein merasa benar-benar sial kali ini. Pasalnya ia yang paling malas untuk bangun pagi, demi bimbel ini dia rela bangun pagi. Namun ternyata hanya ada beberapa anak saja yang ada diruangan itu.

“Tau gini gue enggak bakal dateng pagi. Jam segini kan masih enak-enaknya tidur. Enggak tau apa kalau gue masih ngantuk banget?” gerutu Rein.

            Belum sempat ia istirahat untuk mengambil nafas, terdengar suara sepatu yang tak asing lagi bagi Rein. Ya, itu adalah suara sepatu Miss Mey. Miss Mey adalah pengajar bimbel Rein.

            Ketukan sepatu yang berirama itu semakin lama semakin jelas terdengar. Rein pun mulai Nampak gelisah. Pasalnya dia benar-benar tak mengerti tentang Bahasa Inggris. Hanya satu dua kata saja yang ida fahami. Dan itulah yang membuat Rein semakin malas mengikuti bimbel ini.

            “Kalau bukan Miss Mey yang nyuruh males banget dateng. Dan kalau aja kak Riza enggak sok sokan ngomong pakek Bahasa Inggris, ogah deh gue ikut bimbel ini”

            Rein terus mencoba untuk beradataptasi. Namun, hati Rein selalu menolak. Rein benar-benar malas mengikuti bimbel tersebut. Beginilah Rein, jika ia merasa tak nyaman ia selalu menggerutu tak jelas.

            Terdengar suara pintu ruangan terbuka. Rein segera menyiapkan buku bimbelnya sebelum Miss Mey menegurnya untuk yang kedua kalinya. Miss Mey memasuki ruangan. Ia berjalan anggun bak model. Senyuman simpul dari raut wajahnya, seakan-akan menutupi keriput diwajahnya.

            Entah mengapa hari ini Miss Mey terlihat lebih cantik dari biasanya. Tak ada yang berubah. Masih sama seperti Miss Mey yang kemarin. Masih Miss Mey dengan kriput diwajahnya, senyum simpul, dan sepatu high heels yang ketika berjalan ketukannya berirama. Tapi satu yang berbeda. Kali ini Miss Mey terlihat lebih ramah. Ia sering menebar senyum kepada Rein. Dan Rein menjadi bingung, mengapa Miss Mey berubah seperti ini. Apakah ada yang salah darinya? Sepertinya tidak. Malah Rein terlihat lebih malas dari biasanya.

            Miss Mey menerangkan banyak hal. Rein pun berusaha mendengarkan. Namun, fikiran Rein kemana-mana. Ia teringat kembali tentang sosok kakaknya. Setelah ia menerima surat itu, rasa rindu terhadap kakaknya semakin kuat. Dan rasa penasaran tentang kakaknya pun kian mengusik pikirannya.

            “Rein… Rein… REIIN!!” dengan nada yang sedikit naik Miss Mey memanggil Rein yang sedari tadi asik melamun.

            “Eh, iya Miss” Rein terkejut dengan suara yang memanggil namanya dengan nada tinggi itu.

            “Kamu bisa konsentrasi? Kamu mau ikut bimbel atau keluar?” kali ini Miss Mey benar-benar marah.

            “Iya Miss, saya akan konsentrasi” Rein menundukkan kepalanya dan membuka bukunya.

            Ini bagaikan tamparan keras untuk Rein. Pasalnya, Miss Mey tak pernah semarah ini terhadap Rein. Miss Mey selalu sabar menghadapi muridnya. Dan akan marah jika muridnya melakukan kesalahan yang fatal. Rein pun berjanji pada dirinya sendiri untuk konsentrasi terhadap pelajaran.

***
            Lagi-lagi, gadis mungil ini termenung di balkon kamarnya. Memandangi bintang yang terlihat cantik malam itu. Secangkir kopi dan beberapa potong roti turut menemaninya. Alunan music juga ikut menghanyutkan suasana.

            Hening. Tanpa suara kak Riza yang cerewet. Biasanya setiap malam kak Riza selalu cerewet menyuruh Rein untuk belajar. Rein merasa kesepian tanpa kak Riza. Karena kak Rizalah yang bisa mengerti hati Rein. Sedangkan Mama dan Papa Rein selalu sibuk dengan urusan kantornya. Dalam sehari hanya hitungan jam mereka bertemu.

            Terdengar suara handphone Rein berbunyi. Dengan malasnya Rein beranjak menuju meja di kamarnya untuk mengambil handphone miliknya.

            “Halo” dengan suara malasnya

            “Kenapa suaranya lemes gitu?” jawab seseorang diseberang sana yang tak lain adalah sahabatnya, Salsa.

            “Lagi males aja. Seharian ini bikin bête semua” masih dengan suara malasnya.

            Rein berjalan menuju balkonnya. Masih menggenggam handphone didekat telinganya. Meminun sedikit teh yang sedari tadi ia anggurkan. Masih terdengar suara diseberang sana. Ya, mereka memang sreing melakukan ini. Jika mereka tak bisa bertemu, salah satu diantara mereka pasti akan telefon.

            “Eh, Sal. Tadi pagi gue nemuin surat dari kak Riza didepan rumah” dengan semangat ’45 Rein mengabarkan kabar gembira ini kepada Salsa.

            “Serius? Kak Riza bilang apa?” Salsa penasaran. Salsa tahu bagaimana senangnya Rein menerima surat dari kakaknya itu. Rein yang selalu menunggu kabar dari kakaknya dan kini terwujud.

            “Biasalah, nyuruh belajar belajar dan belajar” nada suara yang semula semangat kini lebih rendah lagi.

            “Ya bagus dong, berarti kak Riza itu masih sering perhatiin kamu, masih sayang sama kamu” Salasa member semangat kepada sahabatnya ini.

            “Ya ya ya, mulai kan? Loe tu sama seperti kakak gue. Nyuruh belajar, ikut bimbel, inilah itulah. Gue aja santai!” Rein sedikit kesal dengan jawaban Salsa.

            “Wuiss, kita itu sayang sama loe. Kita pengen loe jadi anak yang bener. Ilmu itu penting Rein. Mangkanya jangan males kalau enggak mau diomelin sama kita” Salsa tertawa.

            “Iyaa iyaa, udah deh ya kalau ceramah. Gue ngantuk mau tidur, bye!” Rein langsung menutup telefon sebelum mendengarkan jawaban dari Salsa.

            Rein menyandarkan kepalanya dikursi kayu. Memikirkan kembali kata-kata Salsa. Rein fikir, kata-kata Salsa benar. Salsa dan kakaknya menyuruhnya untuk lebih semangat dan tidak menjadi pemalas untuk kebaikannya nanti. Ini bukan hal yang aneh jika berubah menjadi lebih baik. Melihat nilai nilai ulangannya, pantas saja mereka berdua selalu cerewet menuyuruh Rein belajar.

            Rein beranjak dari kursi kayu itu. Menatap jauh keluar sana. Membayangkan sosok kakaknya berada tepat disampingnya saat ini. Dan ia berkata “Aku enggak akan jadi anak pemalas lagi kak, Rein janji!”

            Rein membereskan makanannya dan pergi kekamarnya. Membuka buku pelajaran dan mulai mengerjakan PR. Rein membutuhkan beberapa buku untuk bisa mengerjakan PRnya. Rein merasa kebingungan. Membolak balik dari buku satu ke buku yang lain. Rein ingin menyerah. Memang susah untuk pemula seperti Rein. Ia harus membiasakan diri bercengkerama dengan buku buku yang selama ini hanya ia sentuh saat disekolah saja.

            “Ini kenapa PR banyak banget. Mana gue belum faham” Rein membanting bukunya di meja belajarnya.

            Rein meninggalkan sejenak PRnya yang sedari tadi menyusahkan dirinya. Rein kembali memikirkan kak Riza. Setiap malam ia mengharapkan kak Riza pulang. Ia berharap ketika tidur nanti kak Riza pulang, dan ketika ia membuka matanya esok pagi kak Riza sudah berada didepannya untuk membangunkannya. Namun itu hanya harapan, dan entah mungkin terjadi atau tidak.

***
            Bukan hal yang mudah bagi Rein untuk merubah sikapnya. Berkali-kali Rein mencoba, berkali-kali juga Rein gagal. Rasa malas situ selalu terbayang dipikiran Rein. Pikiran itu selalu menghasut Rein untuk tetap menjadi pemalas. Namun ketika Rein teringat kak Riza, rasa semangat berubah menjadi lebih besar dari rasa malasnya.

            Alarm Rein berbunyi. Sekarang sudah pukul 6.00. Rein terlambat bangun lagi. Tanpa banyak kata ia langsung menyambar handuk yang tergantung disebelah kamar mandinya. Kali ini hanya butuh waktu 15 menit Rein bersiap-siap untuk ke sekolah. Biasanya hampir satu jam Rein bersiap-siap.

            Sebelum berangkat Rein memastikan buku yang ia bawa tak ada yang tertinggal dan semua tugas sudah rapi. Setelah berpamitan dengan Mama Papanya, Rein berjalan keluar rumah. Ia berhenti sejenak didepan pintu. Menghirup nafas dalam dalam dan merasakan kesejukan didalam tubuhnya. Rein terlihat lebih ceria dari biasanya. Karena Rein sudah berjanji kepada kakaknya untuk tidak menjadi anak pemalas lagi. Meski masih sering satu dua kali Rein malas, namun Rein sudah banyak berubah. 

            Beberapa hari terakhir ini Rein berubah. Rein yang dulunya susah untuk bangun pagi, sekarang sudah bisa bangun pagi. Yang dulunya setiap malam hanya duduk di balkon sambil makan, sekarang setiap malam duduk di balkon sambil membaca buku. Yang dulu paling males ikut bimbel, sekarang paling rajin ikut bimbel.

            Tak ada yang menyangka jika Rein akan berubah secepat itu. Miss Mey yang hampir menyerah jika harus mengingatkan Rein, kini bangga dengan Rein. Bukan tanpa alasan Rein berubah. Rein yang selalalu menyayangi orang-orang terkasihnya selalu rela melakukan apa saja demi orang-orang yang ia sayangi. Sebenarnya selalu terfikir dibenak Rein untuk bisa membanggakan kedua orang tauanya. Namun itulah, perilaku pemalas Rein yang membuat mimpinya itu hanya sekedar mimpi.

            Terlihat Miss Mey diruangannya bersama wanita muda yang cantik, berambut pajang. Miss Mey terlihat akrab dengan wanita itu. Sepertinya mereka sedang berbicara serius.

            “Bagaimana Miss, apa Rein sekarang sudah berubah?” Tanya seorang wanita itu. Rupanya tampak semakin cantik ketika ia berbicara. Suara lembut dan senyuman manis mengiringi setiap kata yang terucap dari mulutnya.

            “Akhir-akhir ini saya sedikit lebih kasar dengan Rein. Jika dia tidak mengerjakan PRnya saya pasti akan memarahinya. Sebenarnya saya tidak tega, namun jika ini demi kebaikan Rein, saya akan lakukan. Dan sekarang Rein sudah berubah. Rein berubah seperti apa yang anda harapkan, dan kita harapkan” Miss Mey membalas senyuman wanita itu.

            Rein? Kenapa wanita ini menanyakan Rein? Dan kenapa tentang perubahan Rein? Ya, wanita berambut panjang dengan senyuman manis itu tak lain adalah kak Riza kakak Rein. Kak Riza memang meminta bantuan kepada Miss Mey untuk merubah sikap Rein. Bukan hanya Miss Mey, namun juga kepada Salsa. Kak Riza sudah kehabisan cara untuk merubah sikap adik kesayangannya itu. Hingga terbesit dibenaknnya menggunakan cara ini. Dan berhasil.

***
            Entah mengapa hari ini Rein ingin cepat pulang. Seperti ada sesuatu yang menunggunya di rumah. Benar saja, ketika didepan pintu rumahnya Rein disambut oleh kakaknya. Ya, kak Riza sudah pulang. Terlihat jelas kebahagiaan Rein ketika melihat kakaknya sudah berada dirumah. Tanpa banyak kata, ia langsung memeluk kakaknya itu.

            Rein enggan untuk melepas pelukannya. Ia takut jika kakaknya ini akan pergi lagi. Masih memeluk kakaknya, Rein menatap mata kakaknya ini “Kak Riza enggak pergi lagi kan?”. Kak Riza menggelengkan kepalanya dengan diiringi senyuman.

            Memang banyak perubahan yang dialami Rein. Usahanya -Kak Riza- selama ini membuahkan hasil. Rein berubah menjadi lebih baik.  Dan rasa kekhawatiran akan masa depannya Rein nanti sudah hilang. Kini Rein sering mendapat nilai terbaik dikelasnya. Dan pada semester ini Rein mendapat peringkat 3 dikelasnya. Impian Rein untuk membanggakan kedua orang tuanya kini sudah terwujud. Rein menjadi sudah kebanggaan keluarganya sekarang.

            Dan kini Rein percaya kepada dirinya sendiri. Bahwa dia bisa melakukan apa yang selama ini dia impi-impikan menjadi sebuah kenyataan. Hanya dengan cara niat dalam hati dan percayalah bahwa dia pasti bisa. Dan sebuah cinta serta sebuah kasih sayang akan merubah segalanya. Do you give up before you try.

Selesai

post signature

3 komentar:

  1. Banyak nih yang harus dikoreksi:)
    1. Dalam hal penulisan perlu dikoreksi kembali,
    - Karena bukan karna
    - Di sini bukan disini
    2. Pengulangan kata jangan terlalu sering, diksi nya tambah lagi hayoo\w/
    3. Masih ada kata kata yang salah ketik._.
    Untuk cerita bagus-bagus aja, tapi kalau bikin lagi yg antimainstream gitu, biar greget dan susah ditebak;3
    Maaf, bukan maksud sok tau yah, cuman mau sharing dan saling mengingatkan agar lebih baik semuanya^^
    Sekali lagi maaf, dan terima kasih:)
    -@AngginistantiF-

    BalasHapus
  2. thanks banget buat masukannya sama koreksinya :) iya, harap maklum lah kan penulis muda yang masih baru, aseek :D nah cari yang sulit ditebak itu agak susah ya :3 lain kali dicoba deh :D thanks banget banget, masukannya berguna dan keren :)
    @ariizaa_

    BalasHapus
  3. Kesalahannya:
    1. Penggunaan 'di' masih ada yang salah
    2. Penggunaan kata 'ke' juga. Kesana yang benar itu ke sana (Dari guru Bahasa Indonesiaku)
    3. Masih ada typo ^^
    4. Kalau percakapannya sudah selesai dikasih tanda baca; titik, koma dan sejenisnya.

    Sorry. Bukan bermaksud untuk menggurui^^
    @HanLimaa

    BalasHapus

Tinggalkan jejak yuk ^^ Jangan pelit- pelit~ ❤